PENGARUH ANTIBIOTIKA PROFILAKSIS TERHADAP KEJADIAN INFEKSI LUKA OPERASI

Oktaviana Zunnita, Ros Sumarny, July Kumalawati

Abstract


Antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang diberikan pada pasien yang akan menjalani pembedahan untuk mencegah terjadinya infeksi akibat tindakan operasi. Antibiotik profilaksis diberikan secara intravena agar dicapai konsentrasi maksimum di serum/jaringan pada saat operasi. Pemilihan antibiotika profilaksis yang sesuai pada tindakan pembedahan sangat menentukan keberhasilan dalam mencegah terjadinya infeksi luka operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya angka kejadian infeksi luka operasi dan mengevaluasi penggunaan antibiotika profilaksis dalam pencegahan infeksi luka operasi di rumah sakit Premier Bintaro, Kota Tanggerang. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan studi deskriptif analitik melalui penelusuran data yang dilakukan secara retrospektif pada pasien yang menjalani pembedahan di ruang operasi. Analisa dan evaluasi data berupa deskripsi pola penggunaan antibiotika profilaksis dan angka kejadian infeksi luka operasi serta hubungan antara penggunaan antibiotika profilaksis dengan kejadian infeksi luka operasi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukan bahwa angka kejadian infeksi luka operasi pada tindakan pembedahan sebanyak 7 kasus (1,97%) dari jumlah total 355 kasus bedah pada periode penelitian. Antibiotika profilaksis yang paling banyak digunakan adalah sefalosporin generasi III (66,2%). Hasil analisa dengan Fisher exact menunjukkan bahwa sifat operasi, jenis antibiotika dan waktu pemberian antibiotika mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian ILO (p <0,05). Dari penelitian terlihat pula bahwa semakin lama operasi berlangsung semakin tinggi risiko infeksi luka operasi. Antibiotik sefalosporin generasi III terbanyak yang digunakan adalah ceftriaxone injeksi.


Keywords


Antibiotika profilaksis, sefalosporin, luka operasi

References


Amba, S. 2007. Hubungan penggunaan antibiotika profilaksis dengan kejadian infeksi luka operasi di ruang bedah IRNA A RSCM tahun 2005. Tesis. Universitas Indonesia, Jakarta.

Burke, A. Dan M.D. Cunha. 2009. Antibiotic Essentials. 8 th ed. Physicians Press. New Delhi- India. Hal. 319-321.

Desyana L.S., A. Soemardi dan M. Radji. 2008. Evaluasi penggunaan antibiotika profilaksis di ruang bedah Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta dan hubungannya dengan kejadian infeksi daerah operasi. Indonesian Journal of Cancer.

Gordon, S.M. 2006. Antibiotics prophylaxis against postoperative wound infection. Cleveland Clinic Journal of Medicine. 73: 542-545.

R.S. DR. Cipto Mangunkusumo. 1992. Pedoman Antibiotik Profilaksis Dalam Pembedahan. Edisi I. Jakarta. Hal. 20-21.

SIGN. 2008. Antibiotic Prophylaxis in Surgery: A national clinical guidelines. United Kingdom. Hal. 13-34.

Sjamsuhidajat, R., W. Karnadihardja, T. Prasetyono dan R. Reno. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Penerbit EGC. Hal. 298-357.

Welmahos, G.C., K.G. Toutouzas, G. Sarkisyan, L.S. Chan dan A. Jindal. 2002. Severe trauma is not an excuse for prolonged antibiotic prophylaxis. Archieves of Surgery. 137(5): 537-41.

WHO. 2001. Prevention of Hospital-Acquired Infection. A Practical guide second edition. Malta. Hal. 1-8


Full Text: PDF

DOI: 10.33751/jf.v8i1.1170

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.