PEMANFAATAN ISOTOP LINGKUNGAN DI DAERAH CEKUNGAN AIRTANAH BANDUNG

Fajar Hendrasto, Bambang Sunarwan

Abstract


Hal yang dilakukan dalam survey Survey untuk melakukan delineasi daerah resapan adalah: Sampling environment isotope, yaitu 180, 2H, dan 3H yang terdapat pada mataair, sumurgali, dan sumur pantau dalam yang dipilih.

Dua isotop yang pertama akan digunakan untuk menentukan posisi ketinggian daerah resapan, sementara isotop yang ketiga akan digunakan untuk melakukan analisis umur airtanah.

Dalam hubungannya  dengan  penentuan  ketinggian  daerah  resapan,  air  hujan pada  berbagai ketinggian juga dilakukan pengambilan sampel dan dilakukan analisis untuk tujuan melakukan rekonstruksi local meteoric water line.

Air dari mataair yang keluar ke permukaan merupakan suatu komponen sistem hidrologi dalam siklus hidrologi. Pada dasarnya, siklus hidrologi melibatkan proses pendinginan awan dan kondensasi di atmosfir penyebab terjadinyai hujan.

Air pada sistem akifer tergantung kondisi hidrogeologi setempat, bisa berasal dari air hujan yang terjadi di atas tanah atau dikenal sebagai resapan lokal (local recharge). Namun bisa juga berasal dari air hujan yang terjadi pada area lebih tinggi dan lebih jauh kemudian meresap ke dalam tanah yang mampu bersifat menyimpan selanjutnya mengalir sebagai airtanah. 

Kata-kata Kunci   :   mataair, sumurgali, dan sumur pantau , siklus hidrologi, environment isotope, local meteoric water line, (local recharge).


References


1]. Abidin,Z., 2003, Karakterisasi

Reservoar Panasbumi Untuk Manajemen Lapangan Uap di Lapangan Kamojang, Jawa Barat, Disertasi Doktor, FMIPA, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (tidak dipublikasikan).

2]. Bambang Sunarwan, Penerapan Metoda Hidrokimia Isotop Oksigen 18 (18O) , Deutrium (2H) dan Tritium (3H) Dalam Karakterisasi Akifer Airtanah Pada sistem Akifer bahan Volkanik, Thesis S.2 – ITB, Tidak dipublikasi.

3]. Cellati, R.P., Noto., Panichi, C., Squarci, P., dan Taffi, L., 1973, Interaction Between The Steam Reservoir and Surounding Aquifer in the Larderello Geothermal Fields, Geothermics, vol. 2, No. 3-4, hal. 174 – 185.

4]. Craig, H., 1961, Isotopic Variations in

Meteoric Waters, Science, 133, hal. 1702

– 1703.

5]. Dansgaard, W., 1964, Stable Isotopes, in

Precipitation, Tellus, Swedish

Geophysical Society, hal. 436-468.

6]. Djarwanto dan Subagyo Pangestu.,

2000, Statistik Induktif. Edisi ke-4, Penerbit PT BPFE, Yogyakarta, 371 hal.


7]. Fritz, P., dan Fontes, J.Ch., 1980, Handbook of Environmental Isotopes, Geochemistry, vol. 1, Elsevier Scientific, Publishing Company, Amsterdam – Oxford - New York, 532 hal.

8]. Hendrasto, Fajar., 2005, Penentuan Daerah Resapan Sistem Panasbumi Gunung Wayang Windu, Jawa Barat, Thesis Magister Bidang Hidrogeologi, ITB (tidak dipublikasikan)

9]. Geyh, M.A., 1990, Isotopic Hydrogeological Study in the Bedugul Basin, Indonesia, Project Report No. 10; Project CTA 108, Environmental Geology for Landuse and Regional Planning, Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Bedugul, (tidak dipublikasikan)

10]. Hoefs, J., 1987, Stable Isotope

Geochemistry, edisi ke-3, Springer

Verlag, Heidelberg, hal 117-130.

11]. IAEA, Technical Report Series No. 91,

1983, Guidebook on Nuclear Techniques in Hydrology, IAEA, Vienna, Austria.

12]. IAEA, Technical Report Series No. 210,

1981, Stable Isotope Hydrology, Deuterium and Oxygen-18 in the Water

Cycle, IAEA, Vienna, Austria.


13]. Nicholson, K., 1993, Geothermal Fluids, Chemistry and Exploration Techniques, Springer-Verlag, Berlin Heidelberg, 206 hal.

14]. Panichi, C., dan Gonfiantini, 1978, Environmental Isotopes in Geothermal Studies, Geothermics, vol. 6, No.3/4, hal. 143 – 161.

15]. Sembiring, R.K., 2003, Analisis Regresi, Edisi ke-2, Penerbit ITB, Bandung, 315

hal.


16]. Truesdell, A.H., dan Hulston, J.R., 1980, Isotopic Evidence on Environment of Geothermal System (dalam Fritz, P., dan Fontes, J.Ch., editor), Handbook of Environmental Isotope Geochemistry, vol.1, Elsevier, N.Y., hal. 179 – 225.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.